
beritasatu.com
15 Maret 2018
http://www.beritasatu.com/satu/483340-bmkg-kondisi-cuaca-basah-potensi-karhutla-harus-tetap-diantisiipasi.html
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi cuaca tahun 2018 lebih basah dengan tingkat kekeringan tidak seekstrim dibanding tahun 2015. Oleh karena itu potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada dan harus diantisipasi sejak dini,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam diskusi panel pada pembukaan Munas ke-10 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (14/4).
Munas ke-10 Gapki yang bertemakan “Kemitraan dengan Petani Sawit demi Kesejahteraan Bangsa” berlangsung hingga Jumat (16/3).
Rita --demikian ia akrab disapa-- memaparkan, pada Mei-Agustus 2018, Indonesia memasuki musim kering tidak merata yang kemudian dilanjutkan dengan musim hujan secara merata di seluruh wilayah Indonesia pada Oktober hingga Desember. “Sementara itu, hingga Mei, cuaca dikategorikan dalam kondisi weak La Nina,” katanya.
Menurut Rita, sebagian wilayah di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, pada bulan Maret telah memasuki puncak musim kering. Karena itu, potensi hutan terbakar tetap ada dan harus diantisipasi.
“Pada saat bersamaan, ada juga wilayah mengalami puncak musim hujan seperti pantai barat Sumatera. sebaliknya di pantai timur justru kering," kata mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo menambahkan, kondisi cuaca tahun ini yang diprediksi normal, merupakan momentum yang baik untuk produksi sawit.
"Saat ini ada weak La Nina hingga Mei, cuacanya lebih basah dibandingkan 2015. Prediksi kami pada Maret-April hujan meski tidak merata," kata Prabowo.
Mengenai potensi karhutla yang masih ada, Prabowo mengatakan bahwa BMKG telah berkoordinasi dengan Kementerian LHK untuk antisipasi pencegahan. "Antisipasi dini harus tetap ada, sehingga saat memasuki kemarau, kebakaran tidak meluas," kata dia.
Lebih dari 38 juta ton
Ketua bidang Agraria dan Tata Ruang Gapki Eddy Martono memastikan korporasi anggota Gapki siap mengantisipasi dampak musim kering dengan perlengkapan yang dibutuhan dalam pencegahan karhutla.
"Tahun ini, kami lebih siap, setelah belajar dari pengalaman tahun 2015. Korporasi sawit juga berkomitmen untuk membantu pemerintah dan masyarat mencegah karhutla. Terbukti, pada tahun 2016-2017 kebakaran berhasl ditangani sehingga tidak meluas," kata Eddy.
Ia memperkirakan, produksi minyak sawit (CPO/ crude palm oil) nasional tahun 2018 bakal meningkat dibandingkan 2017. Naiknya produksi, didukung kondisi cuaca tahun 2018 yang cenderung normal.
"Efek cuaca tahun ini tidak terlalu bagus, namun juga tidak buruk. Panen tidak akan terganggu seperti yang terjadi pada tahun 2017,” jelasnya.
Eddy memperkirakan, cuaca yang normal seperti itu akan berdampak baik bagi produksi. Dampak El Nino tahun 2015 dipastikan tidak lagi. Karena itu, produksi CPO tahun ini diperkirakan bisa naik lebih dari 38 juta ton. (*)
Sumber: Investor Daily