Mengolah Limbah Sawit
Kategori : Berita DMSI Posted : Senin, 25 Juni 2018

Kompas

25 Juni 2018

Oleh: Yuli Ikawati

Mengolah Limbah Sawit

 

Ekspor minyak kelapa sawit dari Indonesia ke Eropa belakangan ini ditolak karena limbah industrinya mencemari lingkungan. Itu mendorong efisiensi dan pemanfaatan limbahnya.

 

Lahan kelapa sawit di Indonesia menurut Direktorat Perkebunan 2017 mencapai 14,03 juta hektar. Dari areal itu dihasilkan 37,8 juta ton minyak mentah sawit (crude palm oil/CPO). Jumlahnya akan ditingkatkan jadi 40 juta ton pada 2020 lewat perluasan lahan dan intensifikasi. Kini produksi CPO Indonesia jauh melampaui Malaysia yang berkisar 21 juta ton.

 

Sebagai produsen dan eksportir CPO utama dunia, Indonesia terusik penolakan produknya di Eropa. Pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang berjumlah lebih dari 608 pabrik (data 2011) dinilai tak mengolah CPO dengan baik sehingga limbahnya mencemari lingkungan.

 

Limbah pabrik kelapa sawit, terutama limbah cair yang disebut palm oil mill effluent (POME), membahayakan lingkungan. Menurut riset Ade Sri Rahayu dan timnya dari Winrock International, POME terurai jadi biogas dalam kondisi kedap udara. Biogas ini terdiri dari gas metan 75 persen dan karbon dioksida 25 persen. Gas rumah kaca ini berkontribusi pada pemanasan suhu global jika dibiarkan teremisi.

 

Oleh karena itu, limbah itu perlu dimanfaatkan jadi biogas untuk pembangkit listrik. Setiap ton tandan buah segar (TBS) menghasilkan 0,7 meter kubik POME. Dari 21 meter kubik POME per jam potensi pembangkit listriknya, 1,1 megawatt ekivalen. Dari PKS di Indonesia dihasilkan 34.280 ton TBS per jam atau 23.996 m3 per jam berpotensi membangkitkan 1.280 MW ekivalen daya listrik. Masalahnya, PKS terkendala dana membangun pembangkit.

 

Karena metan merupakan gas rumah kaca, pemanfaatan biogas POME jadi salah satu syarat bagi PKS untuk mendapat sertifikat keberlanjutan ISPO dan RSPO.

 

 

 

 

 

 

Biodiesel

 

Limbah POME menarik perhatian peneliti dari Universitas Tanjungpura (Untan), Kalimantan Barat. Menurut Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe, pabrik percontohan oleh peneliti di Untan untuk POME di Kalbar jadi biodiesel akan dirintis.

 

Di Indonesia jumlah POME 2 juta ton per tahun bisa dikonversi jadi biodiesel. Jadi, perlu dibangun 6 pabrik masing-masing berkapasitas 270 ton per hari atau 100.000 ton per tahun.

 

Pemanfaatan lain untuk biokimia diteliti antara lain bahan kosmetik dan pelumas. Riset akan dilakukan di Pusat Unggulan Riset Kelapa Sawit Untan. "Ini akan dibahas Kemristek Dikti yang mendanai riset itu dengan Kementerian BUMN untuk hilirisasinya," ujarnya.

 

Program itu diawali studi kelayakan pada Juli-September nanti. Rincian desain selama tiga bulan berikut. Pembangunan pabrik akan dimulai awal 2019 dengan biaya investasi sekitar Rp 500 miliar dari Korea Selatan.

 

Pembangunan pabrik biodiesel dan biokimia melibatkan konsorsium perusahaan dari Korea Selatan dan Indonesia, yaitu LG, Hyundai, dan Rekayasa Industri. "Hasil produksinya akan diekspor ke Korea Selatan," ujarnya.

 

 

Efisiensi pabrik

 

Pemanfaatan POME jadi biodiesel bukan hal baru. Peneliti dari Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, Agus Kismanto, mengungkapkan, percontohan pabrik biodiesel skala 8 to per hari telah dibangun di Riau dan beroperasi 2003-2006. Untuk menghasilkan biodiesel yang diambil atau asam lemak sawit atau palm acid oil (PAO) 5 persen dari volume POME. Pabrik skala kecil ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

 

Sementara itu, tim peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Biotek LIPI) mengembangkan teknologi proses memanfaatkan POME untuk menghasilkan biodiesel berbasis bioteknologi dan teknik kimia. Minyak asam sawit pada POME dikonversi dengan reaksi katalis enzimatismen jadi biodiesel. Katalis itu terdiri atas konsorsium enzim lipase dari mikroba lokal. "Uji coba penerapannya dilakukan LIPI bersama PT Agricinal di Bengkulu," kata Yopi Sunarya peneliti dari Puslit Biotek LIPI.

 

Menurut Tatang Soerawidjaja dari Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, dengan menurunnya potensi POME, perhatian dunia mengarah ke TKKS, yakni memanfaatkan lignoselulosa TKKS jadi bahan bakar biohidrokarbon seperti bensin nabati dan bioavtur.

 

Sementara Agus Kismanto mengkaji teknologi pembuatan bahan bakar minyak dari biomassa untuk menekan biaya konversi yang disebut Katalytich Drucklose Verolung (KDV), yakni depolimerisasi dengan katalis pada kondisi vakum. Teknologi itu pertama kali dikembangkan Christian Koch dari Jerman.

 

Reaksinya hanya di suhu 250 derajat celsius. Katalis ada dalam batubara, di komponen Ca, Al dan Si. Konversinya 3 menit dan setelah didistilasi vakum langsung didapatkan BBM bermutu tinggi. Proses produksinya ekonomis karena biaya investasi murah dan tak perlu hidrogen.

 

Nilai kalor dan viskositas minyak KDV mendekati standar Eropa bagi solar EN590. Dibandingkan dengan SNI Solar-48, kadar sulfur lebih baik. Dibandingkan dengan biodiesel, kadar oksigen minyak diesel KDV lebih rendah sehingga mutunya tak turun saat disimpan.

 

Dari hasil pengamatan dengan pengukuran di Gas Chromatograph di Laboratorium Biodiesel BTBRD-BPPT, minyak diesel hasil proses mengandung fraksi minyak tanah dan bensin. Jadi, minyak KDV bisa difraksinasi.

 

Bagian kunci proses KDV adalah turbin pencampur (mixing turbine) untuk mencampur 90 persen biomassa dengan 10 persen batubara dan 1 persen kapur. Pengadukan dengan turbin selama 3 menit menghasilkan panas diakibatkan friksi bilah turbin dengan fluida dan padatan.

 

Pengadukan dengan turbin pencampuran pada 250 derajat celsius terjadi depolimerisasi biomassa. Biomassa diuapkan di tekanan vakum dan dikondensasikan yang menghasilkan minyak KDV dan air. Sisanya ditransfer ke pemanas akhir di suhu 500 derajat celsius untuk mengambil sisa minyak lalu padatan dikeluarkan dan berbentuk seperti aspal.

 

Pabrik KDV bisa dipenuhi pabrik kelapa sawit dengan memanfaatkan pelepah dan tandan kosong. Selain produk dari KDV lebih murah daripada minyak konvensional, bahan bakunya terbarukan dan melimpah di Indonesia.

 

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung