CPO Berkontribusi Besar terhadap Pendapatan Nasional
Kategori : Berita DMSI Posted : Rabu, 05 September 2018

(Analisa/amru lubis)

analisadaily.com

5 September 2018

http://harian.analisadaily.com/kota/news/cpo-berkontribusi-besar-terhadap-pendapatan-nasional/613579/2018/09/05

CPO Berkontribusi Besar terhadap Pendapatan Nasional

Medan, (Analisa). Minyak kelapa sawit memberikan kon­tribusi yang sangat besar terhadap pendapatan nasional Indonesia. Pro­duksi minyak sawit tumbuh luar biasa dari 752.000 ton pada 1980, meningkat menjadi 8,3 juta ton pada 2000 dan 34 juta ton pada 2016.

"Saat ini Indonesia diklaim sebagai penghasil minyak sawit terbesar di du­nia," ujar Prof Dr Eng Ir Irvan, M.Si da­lam pidato pengukuhan jabatan guru besar tetap dalam Bidang Teknik Kimia pada Fakultas Teknik USU di Rapat Terbuka USU  berjudul Penerapan Tek­nologi 'Zero Waste' di Pabrik Kelapa Sawit di Gelanggang mahasiswa USU, Selasa (4/9).

Dikatakannya, setiap ton minyak sawit mentah (CPO), pabrik kelapa sawit mengeluarkan 2,5 ton limbah cair pabrik kepala sawit (LCPKS), 0,9 ton tandan buah kosong, 0,6 ton serat fiber, 0,27 ton cangkang. Karenanya, pada 2015, Indonesia selain memproduksi 31 juta ton CPO, juga 77,5 juta ton limbah cair dan 27,6 juta ton tandan kosong, 18,6 ju­ta ton serat fiber dan 8,4 juta ton cang­krang.

 "Ini merupakan sumber limbah sangat besar jika tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi masalah serius bagi lingkungan," tukasnya sembari mengutarakan selama ini, metode yang sering dipakai untuk mengolah LCPKS dengan menggunakan sistem kolam atau pond. Tujuannya untuk mengurangi kon­sentrasi parameter di air limbah se­perti BOD, COD, pH sebelum dialirkan ke badan sungai.

Meski metode ini berhasil mengu­rangi konsentrasi air limbah hingga 95 persen, namun metode ini membu­tuh­kan waktu sangat lama 55-100 hari ope­rasi serta lahan luas. Terlebih lagi, ini akan melepas gas rumah kaca (GRK) tidak terkendali seperti metana dan CO2 ke atmosfer.

Beberapa PKS peduli lingkungan men­coba mengurangi GRK dengan me­ngangkuti kolam untuk memerangkap GRK kemudian membakarnya ke at­mosfer.

Proses pembakaran ini melepas­kan metana menjadi CO2. Masalah PKS lainnya penanganan limbah padat beru­pa cangkrang dan lainnya.

Solusi

Terkait itu, ia menawarkan solusi ba­gi PKS mengatasi limbah dengan menggunakan teknologi "zero waste" yang dirancang untuk mengurangi dam­pak negatifnya bagi lingkungan.

Lebih lanjut dipaparkan, teknologi ini menggunakan beberapa proses yakni fermentasi LCPKS menjadi biogas dan reaktor tangki berpengaduk kontinu (CSTR) menggunakan mikroba termo­filik. Lalu memproduksi pupuk organik cair aktif dari limbah keluaran reaktor biogas, pengomposan tandan kosong, menggunakan komposter tertutup, dan pirolisis tandan kosong menjadi biochar atau pelet.

"Teknologi ini menjanjikan  dan men­jadi solusi bagi PKS untuk menyele­saikan permasalahan dan penanganan limbahnya dengan manfaat utama se­perti menghilangkan efluen pabrik, pro­duksi biogas bisa menjadi listrik atau sebagai bahan bakar boiler, produksi pupuk kompos atau cair sebagai sub­stansi pupuk kimia. Produksi biochar dan pelet sebagai bahan bakar dan re­duksi GRK sehingga tercipta Zero Pollution di lingkungan pabrik kelapa sa­wit," jelasnya.

Selain Irvan, dalam pertemuan itu  juga dikukuhkan Prof Dr  Halimatu­d­dah­liana, ST, MSc dan Prof  Ir Indra Surya, MSc sebagai guru besar lainnya.

Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu, SH MH dalam sambutannya menar­get­kan hingga akhir tahun ini USU me­ngukuhkan 10 guru besar.

Dikatakannya, sampai 3 September 2018 guru besar tetap USU berjumlah 143 orang sedangkan guru besar tidak tetap non PNS berjumlah 23 orang.

"Jadi total guru besar USU berjumlah 166 orang yang melaksanakan Tri­dharma di 15 fakultas dan satu sekolah pascasarjana. Kita berharap ke depannya jumlah ini akan terus meningkat secara signifikan," tukasnya. (aru)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung