
Kompas
14 September 2018
BIODIESEL
Program B20 Berdampak kepada Petani
JAKARTA, KOMPAS - Perluasan penggunaan solar dengan campuran minyak kelapa sawit sebesar 20 persen atau B20 dinilai dapat berdampak kepada petani. Perluasan itu diharapkan mengangkat harga kelapa sawit di tingkat petani.
Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan pada Sosialisasi Kewajiban Penggunaan Biodiesel B20 dalam Industri Jasa Pertambangan, Kamis (13/9/2018), di Jakarta, menilai, program B20 tidak hanya berdampak pada pengurangan impor bahan bakar fosil, tetapi juga petani kelapa sawit.
Pada Agustus 2015, harga minyak kelapa sawit 484 dollar AS per ton. Dengan penerapan biodiesel, harganya cenderung naik mencapai 711 dollar AS per ton pada Desember 2016. Pemerintah menargetkan penggunaan energi baru terbarukan tahun 2025 sebesar 23 persen dengan kontribusi bioenergi 10 persen.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, program B20 dapat berkontribusi terhadap pengurangan defisit neraca perdagangan sekitar 1 miliar dollar AS sejak diberlakukan mulai 1 September 2018 sampai akhir 2018. Tahun 2019, kontribusinya diperkirakan berkisar 3 miliar dollar AS-3,5 miliar dollar AS. Dengan asumsi nilai tukar rupiah Rp14.500 per dollar AS, pengurangan defisit neraca perdagangan bisa mencapai Rp 50 triliun.
Menurut Rida, pelaku usaha pengguna biodiesel tak perlu khawatir terhadap harga biodiesel. Sebab, selisih harga biodiesel dengan harga solar ditanggung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menambahkan, penggunaan biodiesel pada 2017 mencapai 3,4 juta kiloliter. Pada 2025, penggunaannya diproyeksikan mencapai 13,8 juta kilo liter.
Selain mendukung ketahanan energi, program B20 dinilai mendukung pertumbuhan ekonomi, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan nilai ekonomi, dan mengurangi konsumsi atau impor bahan bakar fosil. (FER)