
pikiran-rakyat.com
20 Oktober 2018
Oleh: Kodar Solihat
http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2018/10/20/sawit-dunia-di-puncak-produksi-indonesia-aktif-cari-pasar-alterna%C2%ADtif-431915
Sawit Dunia di Puncak Produksi, Indonesia Aktif Cari Pasar Alternatif
BANDUNG, (PR).- Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) Indonesia dan Malaysia selaku produsen utama dunia komoditas tersebut, mengalami puncaknya pada tahun 2018 ini.
Akan tetapi, sejumlah produsen sedang memikirkan pasar alternatif, karena bisnis CPO ikut terdapak efek perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Direktur Pemasaran PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) selaku bisnis perdagangan komoditas perkebunan nusantara Iman Bimantara, di Bandung, Jumat 19 Oktober 2018 mengatakan, tahun 2018 ini adalah puncak produksi CPO?Malaysia (diperkirakan stok bisa sampai 3 juta ton yang biasanya hanya 2,1 juta ton) stok akhir dan Indonesia (mencapai 5 juta ton yang biasanya hanya 3,8 juta ton). Puncak produksi diperkirakan akan berakhir pada November 2018.
Perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat juga membawa pengaruh terhadap ketidakstabilan pasar CPO, apalagi para pembeli di Tiongkok berlaku wait and see.
Bahkan, Tiongkok membuka keran impor cukup kencang untuk produk soy (kedelai) yang merupakan produk pesaing CPO (atas desakan Amerika Serikar) dengan pajak impornya nol.
”Untuk mencari solusi mengatasi kondisi tersebut, mencari alternatif pemasaran adalah upaya yang harus dilakukan. Peluang tersebut diperkirakan ada, baik domestik maupun ekspor, yang diharapkan mampu membantu pemasaran berbagai produk CPO Indonesia,” ujar Iman Bimantara saat serah terima jabatan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara VIII, yang kini dijabat Wahyu menggantikan Bagya Mulyanto.
KPBN, katanya, mencoba mengatasi melimpahnya stok CPO?di dalam negeri, di samping terbantu penyerapannya oleh program B20 pemerintah Indonesia. Pihaknya juga membuka pasar baru di luar Tiongkok dan India yaitu kawasan Afrika termasuk Timur Tengah, misalnya Mesir.
Untuk pasar PKO (palm kernel oil) yaitu produk turunan minyak sawit, dikatakan juga sedang mengalami tekanan harga yang cukup dalam.
Lima bulan lalu, harganya masih di sekitar Rp 14.000, saat ini di kisaran Rp 10.000-11.000, karena sentimen pulihnya perkebunan kelapa (bahan virgin coconut oil/VCO) di Filipina yang sempat diterjang banjir dan taifun 4 tahun lalu.
Iman Bimantara menilai, kini terjadi persaingan antara produk VCO dan PKO menguat. Meningkatnya permintaan PKM (palm kernel meal) terjadi di dalam negeri peruntukan pakan ternak di samping ekspor, karena dolar AS menguat dan permintaan PKM meningkat di luar negeri, misalnya Korea dan Taiwan.
Dikatakan pula, harga CPO saat ini di kisaran Rp 6.800-Rp 6.950 /kg belum termasuk PPN (490-520 dolar/ton). Pada awal tahun 2018 harga CPO masih pada kisaran Rp 8.000-8.400 (590-620 dolar/ton).
Importir CPO India dan Tiongkok, katanya, saat ini sangat berhati-hati karena perang dagang Amerika dengan Tiongkok. Dampaknya, cukup banyak CPO?yang sudah dibeli belum diambil (ketidakstabilan pasar).
Belum pula, disebutkan, India juga menaikkan tarif impor minyak sawit dan turunannya, kemungkinan untuk melindungi petani mereka di selatan India. Dampak semua ini, pada akhirnya terhadap harga jual CPO yang mungkin agak tertekan dalam waktu yang cukup lama, perkiraan sampai 2 bulan ke depan.
Pada hari yang sama, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla melaksanakan pertemuan bilateral dengan Wakil Presiden Pertama Komisi dan Komisioner Uni Eropa Frans Timmermans di Gedung Berlaymont, Kamis 18 Oktober 2018 pukul 17.00 waktu setempat membicarakan hubungan kerja sama ekonomi Indonesia-Uni Eropa.
”Kita dengan Uni Eropa membicarakan tentang hubungan ekonomi yang membahas masalah CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) dengan Uni Eropa dan juga masalah-masalah tentang perdagangan, perdagangan sawit dan segala macamnya,” kata Jusuf Kalla di Brussel, Belgia, Kamis malam, seusai menghadiri pembukaan KTT ASEM ke-12.
Kalla diterima Frans di ruang kerjanya, yang berlangsung sekitar 30 menit. ”Yang jelas dalam kaitan ini kan Indonesia membutuhkan Eropa dan Eropa juga memerlukan Indonesia,” kata Jusuf Kalla dalam keterangan pers seperti diberitakan Antara.
Dalam situasi saat ini, perekonomian global yang semakin tidak pasti, Asia dengan Eropa harus bekerja sama. ”Karena Amerika sulit untuk diterka, uncertainty, terlalu banyak ketentuan dan juga Eropa mengalami hal yang sama, karena itulah maka kita berbicara bahwa hubungan kita dengan Eropa harus lebih baik dengan Asia ini,” ujar Jusuf Kalla.
Seusai bertemu Wapres Pertama Komisi Eropa, pertemuan bilateral kedua diadakan di Gedung Europa, satu jam kemudian. Wapres menerima kedatangan Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipars. Tujuannya sama yakni membahas kerja sama ekonomi. Dalam kedua pertemuan ini, Wapres didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Fachir dan Kepala Sekretariat Wapres Muhammad Oemar.***