Ditopang Harga Komoditas, Neraca Perdagangan Agustus Surplus US$ 2,3 Miliar
Kategori : Berita DMSI Posted : Rabu, 23 September 2020

infosawit.com

infosawit.com

23 September 2020

https://www.infosawit.com/news/10236/ditopang-harga-komoditas--neraca-perdagangan-agustus-surplus-us--2-3-miliar

 

Ditopang Harga Komoditas, Neraca Perdagangan Agustus Surplus US$ 2,3 Miliar

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menegaskan, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus US$ 2,3 miliar. Ini merupakan capaian tertinggi ketiga sepanjang tahun 2020 setelah surplus perdagangan pada Juli tercatat sebesar US$ 3,2 miliar dan Februari sebesar US$ 2,5 miliar.

“Neraca perdagangan Agustus 2020 surplus sebesar US$ 2,3 miliar. Melemahnya permintaan global menekan kinerja ekspor Agustus 2020. Namun, penurunan nilai ekspor yang terjadi relatif rendah dibandingkan penurunan volumenya. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja ekspor Indonesia masih tertolong dengan harga komoditas global yang relatif baik,” jelas Mendag Agus dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Mendag Agus mengatakan, neraca perdagangan Agustus 2020 menjadi penopang peningkatan nilai neraca kumulatif periode Januari-Agustus 2020 yang mencapai US$ 11,1 miliar. Nilai neraca periode Januari-Agustus 2020 hampir menyamai nilai neraca perdagangan Indonesia untuk keseluruhan tahun 2017, yaitu sebesar US$ 11,8 miliar, yang merupakan raihan tertinggi neraca perdagangan Indonesia sejak 2012.

“Hal tersebut mengindikasikan kinerja perdagangan Indonesia masih dalam jalur yang benar dalam mendukung perbaikan kinerja ekonomi nasional di tengah ketidakpastian perekonomian global akibat pandemi Covid-19,” kata Agus.

Menurut Agus, nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2020 yaitu tercatat sebesar US$ 13,1 miliar atau mengalami penurunan 4,6% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM). Penurunan ini terutama terjadi pada ekspor nonmigas, yaitu sebesar 4,4% atau senilai US$ 0,6 miliar.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, penurunan ekspor nonmigas pada Agustus 2020 dipicu oleh menurunnya ekspor beberapa komoditas utama Indonesia, seperti lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, logam mulia, serta perhiasan/permata. Penurunan nilai ekspor bahan bakar mineral disebabkan adanya penurunan harga batu bara. Sedangkan, penurunan produk lemak dan minyak hewan/nabati dikarenakan adanya penurunan permintaan impor di Tiongkong yang merupakan negara tujuan ekspor produk minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) Indonesia.

Sementara itu, beberapa produk ekspor nonmigas justru mengalami pertumbuhan bulanan yang signifikan, yaitu bijih, terak, dan abu logam (HS 26), barang dari besi dan baja (HS 73), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Peningkatan nilai ekspor bijih, terak, dan abu logam (26), terutama dipicu oleh lonjakan ekspor biji tembaga dan konsentratnya sebesar 74,92%.

“Ekspor bijih, terak, dan abu logam (HS 26) paling banyak ditujukan ke Tiongkok. Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Inggris, Vietnam, Taiwan, Italia, dan Thailand juga naik secara signifikan. Optimisme dan sentimen positif dari sisi konsumen dan pelaku usaha di beberapa negara tersebut mendorong adanya peningkatan aktivitas bisnis,” ungkap Mendag Agus.

Mendag Agus mengatakan, secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Januari--Agustus 2020 mengalami penurunan 4,4% dibandingkan periode Januari--Agustus 2019 (YoY). Sedangkan, volumenya turun lebih tajam hingga 11,7%. Kinerja ekspor Indonesia masih relatif diuntungkan dengan harga-harga komoditas global yang tidak ikut anjlok. Harga rata-rata kelompok komoditas nonenergi global pada periode Januari--Agustus 2020 hanya turun 1,7% (YoY). Hal itu lebih baik dibandingkan harga kelompok komoditas energi yang turun cukup dalam hingga 34,5% (YoY).

Sementara itu, Mendag Agus menjelaskan impor Indonesia Agustus 2020 tercatat sebesar US$ 10,7 miliar atau meningkat sebesar 2,6% dibanding Juli 2020 (MoM). “Kenaikan impor bulan Agustus disebabkan adanya kenaikan impor pada golongan barang konsumsi dan bahan/baku penolong, yaitu masing-masing sebesar 7,3% dan 5,0% (MoM). Sedangkan, impor barang modal mengalami penurunan sebesar 8,8%,” tandas Agus. (T2)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung