
viva.co.id
10 April 2017
Oleh : Dusep Malik, Shintaloka Pradita Sicca
Amran Nilai Laporan Parlemen Eropa Telalu Usik Sawit RI
Indonesia sudah memiliki standar produk berkelanjutan untuk sawit.
VIVA.co.id – Menteri Pertanian Amran Sulaiman angkat suara, tekait telah disahkannya 'Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests' oleh Parlemen Eropa, di Starssbourg pada 4 April 2017.
Amran menegaskan, kepada Pemerintah Eropa, agar tidak mengusik dan mencampuri urusan pertanian sawit dalam negeri Indonesia. Ia mengatakan, Indonesia sudah memiliki standar produk berkelanjutan sendiri untuk hasil tanaman sawit, yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).
"Kita sudah kerja sama dengan Malaysia RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), kita sudah join dan sepakat. Kita punya standar sendiri untuk pertanian berkelanjutan," ujar Amran di Balai Kartini, Jakarta, Senin 10 April 2017.
Perlu diketahui, isi laporan Parlemen Eropa tersebut menerangkan bahwa perkebunan sawit Indonesia, tidak ramah lingkungan yang menyebabkan deforestasi.
Parlemen Eropa dalam laporan tersebut, tidak hanya sebatas menyinggung isu lingkungan semata, namun juga menyeret isu korupsi, serta hak asasi manusia. Menyatakan bahwa persoalan sawit adalah persoalan besar yang dikaitkan dengan isu korupsi, pekerja anak, pelanggaran HAM, penghilangan hak masyarakat adat, dan lain-lain. Studi sawit akan dirilis pada pertengahan tahun ini dan Komisi Eropa akan mengadakan konferensi terkait sawit.
Kemudian, sisi pandangan negatif, juga menyatakan perlunya alih investasi dari sawit ke sunflower oil dan rapeseed oil, serta kritisi terhadap perbankan, yang dianggap ikut mendukung.
Amran dengan tegas menyatakan, tindakan Pemerintah Eropa tidak bisa dibenarkan. Ia pun menyatakan, jalur diplomasi akan tetap dilakukan, dengan catatan Pemerintah Eropa tidak bisa asal klaim negatif perkebunan Indonesia.
Kemudian, ia melontarkan bahwa ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke negara Eropa, misalnya Prancis ada sekitar 20 ribu ton per tahun. "Hitung-hitungan, ke Eropa berapa pasarnya, yang Prancis itu 200 ribu ton. Kalau ditutup, enggak berpengaruh," tegasnya. (asp)