
5 Oktober 2020
https://www.jambi-independent.co.id/read/2020/10/05/55467/pinang-stabil-sawit-turun/
Harga Tak Bisa Stabil
Pinang Stabil, Sawit Turun
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID, JAMBI –Meski dirundung covid-19, saat ini harga pinang tetap stabil. Kapala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Agus Rizal mengatakan, kondisi ini tidak bisa dipastikan terus stabil. Tergantung mekanisme pasar.
Stabilnya harga buah pinang dipicu dengan permintaan pasar, yang diekspor ke tiga negara yakni Pakistan, India, Afghanistan. Hampir 80 ribu ton pertahun, ekspor ke tiga negara tersebut.
Biasanya mereka mengolah buah pinang ini untuk dijadikan sebagai bahan baku masakan, kosmetik, permen dan obat-obatan. Lanjutnya, hampir seluruh kabupaten di Provinsi Jambi, tersebar komuniti pinang.
Namun yang paling utama di Kabupaten Tanjab Timur dan Tanjab Barat. Ini karena buah yang dihasilkan dari kedua kabupaten tersebut banyak. Kata dia, Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, membuat program bantuan kepada petani pinang yang bisa meningkatkan produksi.
“Saat ini kami memberikan bantuan alat pengolah sederhana buah pinang, yakni alat pembelah buah pinang dan bantuan ke pembinaan penangkar,” pungkasnya. Lanjutnya, harga buah pinang ditentukan oleh mutu dan kadar air. Biasanya harga buah pinang basah dihargai Rp 11 ribu perkilogramnya. Sedangkan untuk harga buah pinang kering Rp 13 ribu perkilogram.
Sementara itu, dua minggu terakhir harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit mengalami kenaikan. Hampir mendekati Rp 2.000 perkilogram. Namun, saat ini harganya turun karena kurangnya permintaan sawit ke luar negeri.
Agusrizal mengatakan, saat ini rata-rata harga sawit mencapai Rp 1.896,74 perkilogramnya. Padahal harga sebelumnya mencapai Rp 1.971,08 perkilogramnya. Turun sekitar Rp 74,34 perkilogram.
Lanjutnya, meski kurangnya permintaan di luar negeri, namun saat ini tak ada penumpukan buah sawit. Pasalnya, di Provinsi Jambi banyak pabrik yang mengelola sawit mentah menjadi minyak. Sehingga bisa sedikit membantu harga sawit untuk tetap stabil.
“Produksi minyak sayur dari sawit juga sudah dipasarkan di beberapa tempat mall, banyak petani yang menjual sawit mereka langsung ke pabrik,” tambahnya.
Agusrizal juga menyebutkan harga sawit tersebut akan bertahan hingga 8 Oktober mendatang, sementara untuk kedepannya, pihaknya belum mengetahui secara pasti, apakah sawit akan kembali naik atau bahkan turun lagi.
“Setiap seminggu sekali kita lakukan evaluasi di kantor terkait perkembangan harga sawit, kita lihat ke depannya seperti apa nanti,” sebutnya. Turunnya harga sawit, ini juga mempengaruhi harga sawit berdasarkan umur sawit petani. Ini juga disebabkan karena harga jual yang turun. Meski demikian, untuk ekspor sawit juga masih lancar.
Diketahui, harga TBS seminggu ke depan usia 3 tahun Rp 1.496,67 perkilogram, usia 4 tahun Rp 1.582,60 perkilogram, usia 5 tahun Rp 1.656,62 perkilogram. Kemudian untuk usia 6 tahun memiliki harga Rp 1.726,75 perkilogram.
Selanjutnya, untuk usia 7 tahun dengan harga Rp 1.770,50 perkilogramnya. Kemudian, usia 8 tahun Rp 1.806,78 perkilogram. Selanjutnya juga, untuk usia 9 tahun Rp 1.843,23 perkilogram, usia 10-20 tahun Rp 1.896,74 perkilogram, kemudian juga untuk usia 21-24 tahun Rp 1.837,32 perkilogram. (mg10/slt)