Pendampingan untuk Petani Sawit Harus Lebih Intensif
Kategori : Berita DMSI Posted : Selasa, 13 Oktober 2020

Petani kebun sawit . Foto ilustrasi: IST

investor.id

13 Oktober 2020

Oleh: Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

https://investor.id/business/pendampingan-untuk-petani-sawit-harus-lebih-intensif

 

Pendampingan untuk Petani Sawit Harus Lebih Intensif

 

JAKARTA, investor.id - Salah satu kunci sukses program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) adalah pembinaan petani yang intensif oleh pemerintah lewat perusahaan inti. 

Pembina Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi) Gamal Nasir mengatakan saat ini kelapa sawit rakyat luasnya mencapai 41% dan masih didominasi petani swadaya.

Masih banyak masalah yang mereka hadapi yaitu masuk dalam kawasan hutan, produktivitas rendah padahal masa depan sawit Indonesia ada di tangan petani.

Ia meminta pemerintah dan perusahaan swasta di sekitarnya harus terjun mendampingi petani agar lebih berdaya saing mengelola sawitnya.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Bustanul Arifin mengatakan sebagian besar model bisnis perkebunan kelapa sawit rakyat adalah petani mandiri.

Berdasarkan sensus pada 2013 menyatakan hanya 8% yang mendapatkan penyuluhan, 72% tidak bergabung dalam kelompok atau akses permodalan maka dari itu diperlukan peran penyuluh pertanian.

Pada kelapa sawit yang diprioritaskan adalah penyuluh swasta dan swadaya, peran mereka membangun model bisnis dengan skema kemitraan berkelompok, koperasi, pengelolaan perusahaan dan penyuluhan teknis budidaya.

Direktur BPDPKS Edi Wibowo mengatakan produktivitas petani penting untuk menghasilkan peningkatan produktivitas CPO. SDM yang diperlukan pada perkebunan rakyat adalah asisten kebun, penyuluh dan pendamping kelompok tani.

Program pengembangan SDM BPDPKS saat ini untuk pendidikan D1 sebanyak 1200 orang, D3 630 orang, D4 120 orang.

“Sedangkan program pelatihan petani mencapai 4.529 orang dan masyarakat umum mencapai 3.300 orang,” ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Selasa (13/10).

Cargill Farmer Development Lead Joko Wahyu mengatakan setelah  sukses membina petani PIR, saat ini pihaknya membina petani swadaya di Musi Banyuasin.

Petani swadaya kalau tidak dibina akan menjadi masalah besar, proses pembinaan dimulai dari melihat skema rantai pasok kemudian menetapkan model aliran bisnis yaitu alur pembayaran.

Pakar Agribisnis Bungaran Saragih mengatakan salah satu yang menyebabkan Indonesia menjadi negara produsen sawit terbesar adalah karena peran petani baik swadaya maupun PIR.

Karena dulu petani sawit bergerak sendiri tanpa bantuan pemerintah, sekarang petani kelapa sawit lewat asosiasi membentuk koperasi petani.

 

 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung