
rri.co.id
10 Juli 2017
Oleh: Sugandi Afandi
http://www.rri.co.id/post/berita/410989/ekonomi/pengusaha_apresiasi_sikap_pemerintah_tangkal_kampanye_hitam_produk_sawit.html
KBRN, Jakarta: Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo yang berupaya menangkis kampanye hitam terhadap produk sawit Indonesia di Eropa. Disela-sela kegiatan negara-negara maju G-20 di Jerman, Presiden meyakinkan pemimpin negara Eropa bahwa pengelolaan sawit Indonesia memperhatikan aspek lingkungan dan tidak melanggar hukum termasuk HAM yang selama ini dituduhkan.
Selama ini, resolusi Sawit dan Deforestasi (Resolution on Palm Oil and Deforestation of Rainforest) yang disetujui oleh Parlemen Eropa pada April 2017, dianggap mendiskriminasi produk minyak sawit dengan produk minyak nabati lainnya.
“Kita mengapresiasi langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam hal ini kunjungan Presiden di G-20. Jokowi menyampaikan konsen sawit Indonesia. Langkah-langkah yang diambil Jokowi dan para menteri sangat kita apresiasi mengingat pentingnya peranan sawit,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang, dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Senin (10/7/2017).
Lebih lanjut Togar menerangkan, industri sawit tidak hanya memilki perananan penting bagi ekonomi Indonesia dengan menyumbang devisa tetapi banyak menyerap tenaga kerja. Diperkirakan 10 juta pekerja yang bekerja di industri kelapa sawit.
Mengenai resolusi resolusi Sawit dan Deforestasi, dia menegaskan resolusi sifatnya non banding artinya negara Uni Eropa dipersilahkan untuk mengadopsi atau tidak resolusi tersebut. Hingga kini, belum ada negara Eropa yang menjadikan resolusi yang mengikat. Dia menegaskan, belum ada pengaruh kampanye hitam terhadap ekspor sawit Indonesia. Namun tetap saja harus ditangkal kampanye hitam. Dia juga menegaskan didalam resolusi, disebutkan penyumbang kerusakan tidak hanya dari industri sawit. Ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa, 4-5 juta ton per tahun.
“Kalau kita baca resolusi, bahwa penyebab deforestasi di dunia bukan sawit tetapi ada minyak kedelai. Judulnya mengatakan resolusi terhadap deforestasi tetapi isinya disebutkan ada yang lain mengakibatkan deforestasi. Jadi tidak melulu sawit,” terangnya. (Sgd/AA)