
borneonews.co.id
13 Juli 2017
http://www.borneonews.co.id/berita/69222-analis-harga-cpo-berpotensi-tertekan-harga-kedelai
BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (13/7/2017) di level 2.570 ringgit per ton setelah berakhir di level 2.581 pada perdagangan sehari sebelumnya.
Menurut analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Kamis, melambatnya laju pergerakan harga CPO karena dibebani oleh penurunan harga minyak nabati lain di Chicago dan China Dalian Commodity Exchange.
"Harga CPO berpotensi lanjutkan pelemahannya jika harga minyak kedelai pada hari ini kembali turun, setelah kemarin berakhir anjlok 0,7% di Chicago Board of Trade serta lebih rendah 0,03% di Dalian Commodity Exchange," katanya.
Faktor lain yang berpotensi membebani harga CPO, imbuh Faisyal, adalah menguatnya mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar AS. Pada pukul 10:05 WIB, ringgit menguat sekitar 0,1% di level 4,2870 per dolar AS.
Penguatan mata uang ringgit akan membuat harga minyak CPO menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
Secara teknikal, kata Faisyal, harga CPO berpotensi bergerak di antara level 2.535 – 2.600 ringgit per ton. Untuk sisi bawahnya, jika menembus ke bawah level 2.535 dapat memicu pelemahan lebih lanjut untuk menguji level support di 2.500.
"Untuk sisi atasnya, jika menembus ke atas level 2.600 dapat mendorong harga bergerak lebih tinggi untuk mengincar level resisten di 2.625," tuturnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)