
inilah.com
25 Juli 2017
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2393197/eks-bos-bpdp-bisnis-sawit-berkilau-30-tahun-lagi
Eks Bos BPDP: Bisnis Sawit Berkilau 30 Tahun Lagi
INILAHCOM, Jakarta - Pelan tapi pasti, permintaan dunia terhadap sawit asal Indonesia, bakal terus naik. Dalam 30 tahun ke depan, kelihatannya bakal naik menjadi 20-25 juta ton.
Ketua Himpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi mengatakan, pada 2016 permintaan minyak nabati dunia sebanyak 167,5 juta ton. Dan, 40% di antaranya dipenuhi dari minyak sawit.
Dalam 30 tahun ke depan, tepatnya 2045, kata Bayu, permintaan minyak nabati dunia diprediksi mencapai 275 juta ton. Atau naik 105 juta ton ketimbang saat ini. Nah, apabila 40% dipenuhi dari minyak sawit maka kebutuhannya berkisar 40-45 juta ton.
"Peran Indonesia dalam 30 tahun ke depan ada tambahan permintaan sawit Indonesia 20-25 juta ton. Saat ini produksi sawit Indonesia 35 juta ton sehingga 2045 diproyeksikan 60 juta ton," kata mantan Kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit itu.
Bayu menyatakan, usia produksi rata-rata tanaman sawit adalah 30 tahun, sehingga kondisi permintaan pasar dunia ke depan terhadap komoditas tersebut sudah seharusnya dipersiapkan dari sekarang.
Terkait upaya untuk meningkatan produksi minyak sawit nasional dari saat ini 35 juta ton menjadi 65 juta ton pada 2045, mantan Wakil Menteri Pertanian itu menyatakan, sulit jika dilakukan dengan ekspansi atau perluasan lahan.
"Meskipun secara legal formal perluasan lahan baru bisa dilakukan, namun pemerintah menerapkan kebijakan moratorium lahan," kata Bayu.
Oleh karena itu, menurut Bayu, upaya peningkatan produksi minyak sawit ke depan bisa dilakukan dengan menaikkan produktivitas tanaman, apalagi potensi tersebut masih sangat tinggi.
Dia mengungkapkan, saat ini, produktivitas tanaman sawit nasional berdasarkan penelitian mencapai 7,8-8 ton CPO/hektar (ha). Sedangkan untuk perusahaan swasta lebih rendah lagi yakni 4,5-5 ton CPO/ha. Yang terendah adalah perkebunan rakyat sebesar 3-3,5 ton CPO/ha.
"Ada ruang yang cukup besar dari perkebunan rakyat untuk ditingkatkan produktivitasnya. Kalau (produktivitasnya) menyamai perkebunan swasta saja maka terjadi peningkatan 1,5-2 ton/ha apalagi kalau bisa menyamai tingkat penelitian," kata Bayu. [tar]