DANA HIBAH SAWIT SDM Petani Jadi Kendala
Kategori : Berita DMSI Posted : Kamis, 03 Agustus 2017

Koran Bisnis Indonesia

3 Agustus 2017

 

DANA HIBAH SAWIT

SDM Petani Jadi Kendala

 

MEDAN - Minimnya kemampuan petani kelapa sawit Indonesia untuk menyusun dokumen pengajuan serta belum maksimalnya akses informasi menjadi hambatan terbesar dalam proses pencairan dana hibah dari lembaga Roundtable Sustainable Palm Oil atau RSPO.

 

Wakil Ketua Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade) Sumatera Utara Teguh Kurniawan mengakui bahwa sumber daya manusia para petani menjadi hambatan terbesar dalam pengajuan RSPO Smallholder Support Fund (RSSF), termasuk di provinsinya. Begitu juga dengan akses informasi mengenai program itu.

 

"Dua-duanya. Kalau petani belum tahu, otomatis belum mampu. Memang ada yang sudah tahu, tapi belum mampu membuat proposalnya," ujarnya di sela seminar sehari bertajuk Memperkuat Keberlanjutan Rantai Pasok Kelapa Sawit di Indonesia. Rabu (2/8).

 

Hal ini dibenarkan oleh Direktur Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia Tiur Rumondang. "Hampir semua pengajuan yang berhasil direalisasikan petani berkat pendampingan yang diberikan oleh perusahaan perkebunan atau lembaga swadaya masyarakat."

 

Adapun sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengajuannya adalah lahan sawit tersebut sudah berproduksi, bersedia memenuhi standar-standar perkebunan berkelanjutan RSPO dan memiliki rencana jangka panjang pengembangan perkebunan.

 

Lebih jauh Tiur Rumondang mengungkapkan, saat ini ada 3,24 juta hektare lahan kelapa sawit di dunia yang sudah mengantongi Sertifikat RSPO, dengan 11,71 juta metrik ton volume sawit berlabel Certified Sustainable Palm Oil (CSPO).

 

Sampai dengan 2016, Indonesia berada di peringkat 10 negara pemilik terbanyak Sertifikat RSPO dengan 117 anggota, sedangkan urutan teratas adalah Inggris yang memiliki 229 anggota lebih banyak.

 

Adapun Sertifikat RSPO di Sumut saat ini dipegang oleh 40 perusahaan kelapa sawit (PKS) dari 13 grup perusahaan, termasuk PTPN III, dengan total produksi terbesar adalah tandan buah segar (TBS), sebanyak 5,5 juta ton.

 

Sumatera Utara sejauh ini telah memberikan kontribusi sebesar 20% dari total produksi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO di Indonesia.

 

Adapun kapasitas produksi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat CSPO di Sumut sampai dengan akhir Juni 2017 tercatat sebanyak 1,3 juta metrik ton dari total produksi CSPO di Indonesia yang sebanyak 6,53 juta metrik ton.

 

Tiur mengungkapkan, pihaknya menyediakan anggaran hibah (grant) bagi para petani kelapa sawit untuk mengembangkan konsep perkebunan berkelanjutan guna mengantongi sertifikat RSPO.

 

"Dana grant yang sekarang tersedia US$2,7 juta," ujarnya dalam acara yang sama.

 

Dia menjelaskan, dana grant yang disebut dengan RSSF itu selalu dialokasikan setiap tahun dan pada 2016 dianggarkan senilai US$2,5 juta.

 

Sejauh ini, RSSF baru mengucur sebesar US$209.000 ke Indonesia, yang menyasar ke 9.659 hektare lahan sawit dengan 4.563 individu petani. (Yoseph Pencawan)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung