
InvestorDaily
Senin, 4 September 2017
Produksi Minyak Sawit Tahun ini
36 Juta Ton
JAKARTA –Produksi minyak sawit nasional sepanjang tahun ini mencapai 36 juta ton, ataulebih tinggi dari perkiraan semula yang hanya 35 juta ton. Kondisi cuaca yangmendukung menjadi pemicu utama membaiknya produksi minyak sawit 2017. Padasemester I-2017, produksi komoditas perkebunan tersebut telah mencapai 21 jutaton.
Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun memperkirakan, produksi minyak sawit mentah nasional pada Juli 2017 mencapai 3,40 juta ton. Dengan demikian,total produksi minyak sawit sepanjang Januari-Juli 2017 bisa menjadi 21,55 jutaton. "Dengan cuaca yang baik seperti Sekarang ini maka produksiJanuari-Desember 2017 dapat mencapai 36 juta ton, proyeksi awal tadinya 35 jutaton,” kata Derom di Jakarta, Minggu (3/9).
Deromjuga mengatakan, pertumbuhan positif produksi ditopang oleh produktivitastanaman muda yang naik cepat, serta tanaman TBM (tanaman belum menghasilkan)yang menjadi TM (tanaman menghasilkan) memberikan kontribusi yang melebihi estimasiawal.
Sebelumnya,Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan, ekspor minyaksawit nasional pada semester I-2017 mencapai 16,60 juta ton, atau naik 32,80%dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 12,50 juta ton. Kenaikantersebut dipicu oleh melonjaknya permintaan minyak sawit dari negara-negaratujuan utama ekspor, yakni India, Tiongkok, Uni Eropa (UE), dan AmerikaSerikat, serta dari Afrika dan Bangladesh.
Eksportersebut itu mencakup minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) danminyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) beserta turunannya, termasuk oleokimiadan biodiesel. Sementara produksi pada semester l-2017 mencapai 18,15 juta ton,sementara pada periode sama 2016 hanya tercatat 15,30 juta ton. Data itumencakup perhitungan dari berbagai asosiasi sawit, termasuk DMSI.
MenurutDerom, produksi minyak sawit pada Juli 2017 diyakini mencapai 3,40 juta ton,ekspor sekitar 2,10 juta ton, konsumsi domestik 800 ribu ton, dan stok berkisar2,30 juta ton. Khusus untuk Agustus dan September, DMSI memperkirakan produksimasing-masing sebesar 3,50 dan 3,80 juta ton. “Jika pada Januari-Juli 2015produksi 18,50 juta ton maka pada Januari-Juli 2017 menjadi 21,55 juta ton.Pada Oktober diperkirakan menurun ke 3,50 juta ton, lantas pada November danDesember 2017 bakal menjadi lebih rendah lagi,” kata Derom.
Hanyasaja, ujar Derom, bagi perkebunan yang sudah melakukan sensus persediaan buahdi pohon, estimasi bisa jauh lebih akurat. “Tapi karena tidak tersedia makakita mengambil tren dan cuaca. Saat ini, cuacanya relatif baik sehinggaproduksi juga membaik," kata dia.
Sementaraitu, Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, dengan sumbangan devisamencapai US$ 18,50 miliar setiap tahunnya maka kelapa sawit merupakan subsektorstrategis bagi Indonesia. Apalagi, subsektor kelapa sawit juga menyerap lebihdari 5 juta tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah-wilayahpinggiran. “Karena itu, kami setuju tatakelola perkebunan kelapa sawit harusberkelanjutan," jelas Joko.
Karenaitulah, Joko Supriyono mewakili Gapki bakal berbicara tentang perkembangansubsektor kelapa sawit Indonesia dalam forum resmi di Markas PerserikatanBangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada 6 September 2017."Di sini, kita duduk bersama di PBB, seperti apa keberlanjutan subsektorkelapa sawit yang ingin kita capai bersama,” kata Joko.
Selaintentang aspek ekonomi, Gapki akan menjelaskan sikap dan posisi dunia usahanasional terkait isu-isu keberlanjutan di subsektor pendulang devisa negaraterbesar tersebut. "Tidak hanya berbicara secara resmi di PBB, kami jugaakan melakukan sejumlah informal meeting dengan para pemangkukepentingan selama kunjungan ke Amerika Serikat ini,” kata Joko.
Diamengatakan, kehadiran Gapki dalam pertemuan tingkat tinggi di PBB tersebutadalah atas undangan UNDP (Program Pembangunan PBB) yang menggagas diskusitentang isu keberlanjutan di sejumlah sektor ekonomi di negara berkembang. Selamaini, negara-negara di Uni Eropa dan Amerika menyoroti tata kelola perkebunankelapa sawit di Indonesia. Di sisi lain, permintaan minyak sawit dari keduawilayah tersebut terus meningkat. “Pada semester I-2017, ekspor ke Uni Eropa2,7 juta ton atau meningkat 42% dari periode sama 2016,” kata Joko.