
tribunnews.com
20 Oktober 2017
http://jambi.tribunnews.com/2017/10/20/penelitia-unja-ditantang-kemenlu-ajak-buktikan-sawit-ramah-lingkungan
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kementerian Luar Negeri melalui Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa, 'menantang' para peneliti di Universitas Jambi (Unja) untuk membuktikan bahwa industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.
"Penting bagi kita untuk membuktikan industri kelapa sawit di Indonesia dikelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan ditengah gempuran kampanye negatif diparlemen Eropa soal industri kelapa sawit," sebut Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (P2PK) Kawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Leonard F Hutabarat, saat menyampaikan kuliah umumnya di Unja, Jumat (20/10).
Kuliah umum yang bertema "Diplomasi Indonesia dan Kepentingan Nasional Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup" itu, disampaikan dihadapan para mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Akademisi Unja. Menurut Leonard, Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit yang terbesar di dunia.
Selain itu, produk kelapa sawit Indonesia seperti Curd Palm Oil (CPO) juga diekspor di sejumlah negara besar, seperti India, Tiongkok, Amerika dan Jepang.
"Apa betul industri kelapa sawit itu mempekerjakan anak. Apa benar kebun sawit itu merusak lingkungan, dan menganggu biodversity. Untuk itu, mari bersama khususnya para peneliti Universitas Jambi, membuktikan secara akademis dan berdasarkan penelitian yang konkrit, pertanyaan-pertanyaan tadi," ujar Leonard.
Selain membuktikan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia itu ramah lingkungan dan memenuhi aspek, juga dibutuhkan kebijakan dan diplomasi yang ditekankan pada bidang ekonomi yang strategis dan untuk kepentingan nasional.
"Pada diplomasi bidang ekonomi ini ada hal penting bagi kita. Pertama terkait kepentingan nasional kita, terhadap tenaga kerja Indonesia, sehingga kalau ekonomi kita maju, maka kita punya postur ekonomi yang maju, peluang ekonomi yang saling berhubungan dengan lingkungan hidup," katanya menjelaskan.
Saat ini kelapa sawit menjadi sektor strategis Indonesia. Selain itu sektor kelapa sawit juga menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah-wilayah pinggiran. Selama ini, negara-negara Uni Eropa dan Amerika menyoroti tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Namun permintaan minyak sawit dari kedua wilayah tersebut terus meningkat. Pada semester I tahun 2017, ekspor ke Uni Eropa mencapai 2,7 juta ton atau meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,9 juta ton.
Sementara itu, di Provinsi Jambi luas perkebunan kelapa sawit mencapai 689.966 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten. Berdasarkan data statistik saat ini total areal perkebunan kelapa sawit seluas 689.966 hektare dengan produksinya mencapai 1,6 juta ton pertahun. Dari total luasan perkebunan kelapa sawit tersebut, sekitar 42 persennya merupakan perkebunan kelapa sawit yang dikelola swadaya atau tidak terintegrasi dengan perkebunan plasma.