Tantangan Terhadap Kelapa Sawit Sangat Berat
Kategori : Berita DMSI Posted : Senin, 20 November 2017

Deklarasi Hari Sawit Indonesia di Gedung Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jalan Brigjen Katamso pada Peringatan Hari Sawit Indonesia, Sabtu (18/11).

analisadaily.com

20 November 2017

http://harian.analisadaily.com/kota/news/tantangan-terhadap-kelapa-sawit-sangat-berat/455102/2017/11/20

 

Tantangan Terhadap

Kelapa Sawit Sangat Berat

Medan, (Analisa). Masyarakat dan Pelaku Usaha Industri Kelapa Sawit Indonesia me­nyepakati untuk menjadikan 18 November sebagai Hari Sawit Indo­nesia. Di samping itu diusulkan juga Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menjadi Dewan Sawit Indonesia (DSI).

Deklarasi Hari Sawit Indonesia ini dilakukan di Gedung Pusat Pe­nelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jalan Brigjen Katamso pada Peringatan Hari Sawit Indonesia, Sabtu (18/11).

Deklarasi ini ditandatangani to­koh kelapa sawit, Soedjai Karta­samita, Bayu Krisnamurti, Ketua Umum DMSI Derom Bangun serta dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Apro­bi), Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIM­MI), Gabungan Industri Minyak Na­bati Indonesia (GIMNI), Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Aso­siasi Produsen Oleochemical In­donesia (Apolin) dan PPKS.

Kepala PPKS Hasril Hasan Sire­gar menyampaikan alasan mengapa 18 November diusulkan sebagai Hari Sawit Indonesia. Dijelaskan bahwa 18 November 1911 merupa­kan pertama kali dikembangkan se­cara komersial.

“Pada 18 Novem­ber 1911 Hallet mendaftarkan konsesi Pulu Raja ke perusahaan minyak Sumatera di Brussel, Belgia. Pada waktu bersa­maan, bibit muda kelapa sawit pertama ditanam di Sungai Liput dan Pulu Raja,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Derom B­a­ngun. Menurutnya, ada tiga hal yang harus dijelaskan mengapa Peri­ngatan Hari Sawit Indonesia digelar di PPKS. “Hal pertama soal sejarah sudah disampaikan Pak Hasril,” ujarnya.

Sedangkan hal kedua, mengapa peringatan dilakukan di PPKS menurut Derom karena PPKS suatu lembaga yang erat kaitannya dengan perkembangan industri perkebunan dan khususnya kelapa sawit.

“Sejalan dengan perkembangan yang sangat pesat itu, industri sawit Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berat terutama dari Amerika dan Uni Eropa. Di samping itu tantangan lain juga banyak. Karena itu kita harus membulatkan tekad dan langkah bersama untuk me­ngatasi tantangan secara me­muas­kan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan,” tegasnya.

Hal yang tidak jauh berbeda di­sampaikan Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Ir Bambang MM. Diungkapkan, meski saat ini perkebunan merupakan penghasil devisa terbesar namun perkebunan khususnya kelapa sawit mendapat tantangan yang sangat besar.

“Satu hal yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya agar tidak ada alasan untuk mengatakan tidak kepada kelapa sawit. Caranya adalah menghapus isu-isu negatif terhadap kelapa sawit,” ujarnya.

Salah satu yang harus dilakukan menurut Bambang adalah bagai­mana kita bersama-sama mematuhi ketentuan ISPO. “Saat ini baru 6 per­sen perusahaan yang mengikuti ISPO. Kita berharap semua meng­ikutinya karena dengan mengikuti ISPO berarti kita melaksanakan apa yang selama ini dijadikan isu negatif, “ tegasnya.

Ditegaskan, isu deforestasi, lingkungan hidup, tenaga kerja merupakan hal yang dihembuskan oleh penentang minyak sawit. Apa­bila semua menerapkan ISPO pasti itu akan hilang sendiri karena per­syarakat ISPO sudah menyangkut hal tersebut.

“Saya juga ingatkan, perusahaan besar harus bermitra dengan rakyat melalui sistem plasma. Perusahaan harus hidup bersama masyarakat sekitar,” tegasnya.

Pada kesempatan itu Dirjen Per­ke­bunan juga me­ngungkapkan, bah­wa minyak sawit merupakan masa depan energi terbarukan. “Ketika minyak dari fosil habis maka minyak nabati khususnya minyak kelapa sawit merupakan alternatif energi terbarukan. Di samping minyak nabati lainnya, sawit sangat efisien,” ujarnya.

Sekarang yang harus dilakukan bagaimana agar perkebunan lebih efisien lagi karena selama ini belum maksimal dan bisa lebih diting­katkan lagi.

“Selama ini produktivitas sawit hanya 2-4 ton per hektare (ha). Padahal hasil penelitian bisa men­capai 18 ton/ha. Tidak pun 18 ton, bisa 8 ton/ha sudah hebat,” ujarnya.

Terakhir ia mengatakan, akan menyampaikan deklarasi pada Menteri Pertanian, agar 18 Novem­ber ditetapkan sebagai Hari sawit Indonesia dan DMSI menjadi DSI. (rrs)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung