Pentingnya Tata Air Untuk Pengelolaan Lahan Gambut (Edisi Gambut)
Kategori : Berita DMSI Posted : Selasa, 16 Januari 2018

sawitindonesia.com

16 Januari 2018

https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/pentingnya-tata-air-untuk-pengelolaan-lahan-gambut-edisi-gambut/

Pentingnya Tata Air Untuk Pengelolaan Lahan Gambut (Edisi Gambut)

 

Stephens dan Speir (1969), berdasarkan hasil kajian mereka pada lahan gambut di Florida, menyimpulkan bahwa apabila pada lahan tersebut dibuat parit dengan ukuran yang sesuai untuk lahan gambut kemudian dipupuk dengan undur hara makro dan mikro secara tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan tanaman, lahan gambut akan menjadi bermanfaat untuk usaha pertanian. Saluran yang direncanakan dan yang dibuat harus mampu mempertahankan kondisi bahan gambut dalam keadan tidak terlalu kekeringan dan tidak terlalu jenuh air. Artinya kadar air dalam bahan gambut harus cukup.

Menunjukan Batas Kritis Air di Dalam Bahan Gambut (Sabiham,2000)

Tingkat dekomposisi

Gambut Jambi-Sumatera

Gambut Kalimantan Tengah

Marin

Payau

Air Tawar

Marin

Payau

Air Tawar

Fibrik

336,8-450,9

316,5-423,7

308,9-413,5

290,6-388,9

273-365,5

346,6-464

Hemik

165,2-221,6

245-327,9

318,3-426,5

202,7-271,4

178-238,3

191,7-256,6

Saprik

186,8-250

280,6-375,7

238,2-318,9

192-257

224,4-300,4

232-310,6

Tabel 1. Batas  kritis kadar air (%) gambut Jambi, Sumatera dan Kalimantan Tengah.

Catatan: Dibawah batas kritis, bahan gambut tidak mampu menyerap air kembali.

Sumber: Desain Penglelolaan Lahan Gambut Untuk Mendukung Pruduktivitas Pertanian Berbasis Perkebunan, Prof. Dr. Supiandi Sabiham

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung