
bisnis.com
18 Januari 2018
http://industri.bisnis.com/read/20180118/12/728301/voting-ue-soal-cpo
Oleh : Rayful Mudassir
Voting UE Soal CPO, Pengamat Angkat Bicara
Bisnis.com, JAKARTA- Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan jika sampai terjadi penghapusan crude palm oil (CPO) sebagai bahan dasar energi terbarukan di Uni Eropa akan berdampak pada pernurunan nilai ekspor komoditas tersebut.
“Volume ekspor kelapa sawit akan turun jika Uni Eropa menghapus penggunaan minyak kelapa sawit. Itu akan berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia,” kata dia kepada Bisnis, Kamis (18/1/2018).
Menurutnya, total ekspor sawit Indonesia pada 2016 didominasi oleh tiga negara dan kawasan, yakni India 24%, Uni Eropa 14% dan China 11,4%. Artinya Uni Eropa menjadi salah satu pasar utama ekspor minyak nabati tersebut.
Meski begitu kata Faisal, berdasarkan keterangan Dubes Uni Eropa, mereka hanya menghapus minyak kelapa sawit sebagai salah satu energi terbarukan, akan tetapi untuk impor ke kawasan itu dapat tetap berlangsung.
Pemerintah juga diminta untuk memanfaatkan perundingan antara RI dan Uni Eropa dalam Cepa. Melalui perundingan tersebut, pemerintah dapat memastikan komoditas apa yang dapat diimpor ke sana. Jika CPO benar-benar di larang, maka pemerintah patut mempertegas komoditas pengganti untuk dimasukan ke kawasan itu.
“Pemerintah juga harus melakukan perluasan ke negara-negara yang masih menerima minyak kelapa sawit. Kemudian juga dapat memperluas pasar hingga ke negara nontradisional,” ujar dia.
Seperti diketahui, setelah melakukan voting, Anggota Parlemen Eropa (MEP) akhirnya menyetujui proposal undang-undang yang akan diajukan ke menteri Uni Eropa, mengenai penggunaan energi terbarukan.
Salah satu kebijakan yang dihasilkan melalui proses jajak pendapat yang digelar pada Rabu (18/1) tersebut adalah menghapus minyak kelapa sawit sebagai salah satu bahan dasar biofuel. Dalam penjelasannya, proposal tersebut menyebutkan bahwa minyak sawit dianggap menjadi salah satu dalam proses deforestasi.
Proposal tersebut juga menyebutkan bahwa penggunaan sawit di Uni Eropa akan berakhir pada 2021, yang menjadi periode awal diterapkannya undang-undang konsumsi energi Eropa yang baru.
Tercatat, proposal yang mengatur larangan konsumsi sawit sebagai bahan pembuat biofuel, disetujui oleh 492 orang. Sementara itu, anggota parlemen yang menolak sebanyak 88 orang dan 107 orang lainnya menyatakan abstain.
“Dekarbonisasi bukanlah hambatan untuk pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, proses dekarbonisasi adalah pendorong daya saing, aktivitas ekonomi dan lapangan kerja,” kata Jose Blanco Lopez, anggota MEP dari Spanyol, seperti dikutip dari laman resmi Parlemen Eropa, Kamis (18/1).
Proposal yang telah memenangkan suara mayoritas dalam proses voting di Parlemen Eropa tersebut, akan segera diajukan ke pemerintah masing-masing negara Uni Eropa dan Komisi Eropa.
Sementara itu, hasil dari proses jajak pendapat di MEP tersebut mendapat kritik keras dari negara eksportir utama sawit yakni Malaysia. Menteri Perkebunan Malaysia Mah Siew Keong bahkan menjuluki kebijakan Benua Biru tersebut sebagai salah satu praktik apartheid dan proteksionisme.
"Ini adalah kasus diskriminasi yang jelas terhadap negara-negara penghasil minyak kelapa sawit. Uni Eropa mempraktikkan praktik apartheid di sektor perkebunan, " kata Mah, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (18/1).
Mah bahkan mengancam akan melakukan perang dagang dengan Eropa jika proposal tata kelola energi terbarukan Uni Eropa tersebut disahkan.
"Jangan harap kita terus membeli produk Eropa," katanya.
Seperti diketahui, Pemerintah Malaysia pernah sempat mengancam untuk memangkas perdagangan dengan negara-negara yang berencana atau sudah mengurangi konsumsi minyak kelapa sawit.
Pada Juli tahun lalu, Pemerintah Negeri Jiran ini mengatakan bahwa mereka dapat meninjau perdagangannya dengan Prancis, setelah negara itu memutuskan untuk membatasi penggunaan minyak sawit dalam biofuel.
Adapun, Malaysia adalah produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Kedua negara tlah menyumbang hampir 90% produksi sawit secara global. Ekspor minyak nabati merupakan sumber pendapatan utama bagi Malaysia, dengan Uni Eropa sebagai pasar ekspor terbesar kedua.
Editor : Linda Teti Silitonga