Ekspor Minyak Sawit Bisa Meningkat Hingga 2028
Kategori : Berita DMSI Posted : Senin, 05 Februari 2018

Ilustrasi - jibi

bisnis.com

5 Februari 2018

http://industri.bisnis.com/read/20180205/99/734743/ekspor-minyak-sawit-bisa-meningkat-hingga-2028

Ekspor Minyak Sawit Bisa Meningkat Hingga 2028

Bisnis.com, JAKARTA - Hingga 10 tahun mendatang volume dan nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya diprediksi masih terus meningkat.

Pengamat ekonomi Bustanul Arifin mengatakan hal itu menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat neraca perdagangan Indonesia pada 2017 mengalami surplus US$11,84 miliar.

Pada 2016 nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar US$18,22 miliar , dan pada 2017 melejit di angka US$22,97 atau naik sekitar 26%.

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) itu mengungkapkan,  tak terkejut dengan angka yang dirilis BPS tersebut, karena volume ekspor minyak sawit berbanding lurus dengan produksi.

"Saya tidak terlalu kaget dengan angka-angka itu, karena sawit itu nilai ekspornya berbanding lurus dengan produksi, apalagi harga rata-ratanya juga meningkat. Dan tren kenaikan ekspor ini pada 2018 masih akan terjadi karena cuaca juga mendukung," katanya.

Namun, dia mengingatkan kepada para pelaku usaha dan pemerintah bahwa isu "sustainibility" atau keberlangsungan masih akan terus menjadi kendala.

"Ini harus diselesaikan. Pemerintah harus terus melakukan diplomasi dagang. Kalau tidak, potensi devisa yang sangat besar ini bisa saja sirna. Karena ini merupakan salah satu hambatan dagang, tariff barrier," katanya.

Selain itu, pemerintah harus gencar membuka pasar-pasar ekspor baru, misalnya negara-negara di Afrika Tengah, Afrika Selatan, negara pecahan Rusia, negara-negara di Timur Tengah yang dinilai sebagai pasar prospektif.

Bustanul juga mengingatkan agar pasar-pasar tujuan ekspor tradisional seperti Eropa Barat, AS, Jepang, India, Pakistan, China tidak ditinggalkan.

"Kita harus cerdas dan cerdik dalam mengembangkan pasar baru yang potensial, tapi jangan sampai lengah dengan meninggalkan pasar tradisional. Sebab kalau lengah, peluang itu akan hilang," katanya.

Menurut dia, berbagai upaya menghambat pertumbuhan industri sawit akan terus dilancarkan karena persaingan dagang minyak nabati yang semakin ketat.

"Dalam kondisi ini, pemerintah harus lebih jeli dalam melihat permasalahan dan tidak mengeluarkan regulasi-regulasi yang justru menghambat perkembangan industri sawit yang notabene merupakan mesin penghasil devisa terbesar dalam menyokong perekonomian nasional," tutur Bustanul.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan, hingga kini Indonesia masih terpaku pada pasar tradisional yang mencapai sekitar 70% dari total negara tujuan ekspor.

"Kita dari dulu masih tidak terbuka untuk pasar baru. Pakistan, Eropa Timur, Afsel, Afrika Utara ini juga sangat potensial. Oleh karena itu pada 2018 harus buka pasar alternatif itu," katanya.

Selain itu, tambahnya, pemerintah harus bisa melakukan diplomasi dagang dengan negara tujuan ekspor, sebab setiap negara selalu menerapkan tarif dan non tarif. Amerika Serikat misalnya, saat ini menerapkan kebijakan perdagangan yang lebih protektif.

Saat ini AS telah menerapkan lebih dari 2.000 hambatan non tarif, China punya 4.000 hambatan non tarif, sementara Indonesia hanya memiliki 299 hambatan non tarif.

"Itu yang menyebabkan kita tidak bisa masuk ke pasar mereka. Kita harus memperkuat diplomasi perdagangan baik secara bilateral maupun multilateral sehingga hambatan non tarif tadi bisa berkurang," katanya.

Indonesia yang memiliki sawit sebagai komoditas potensial, menurut Bhima, harus tetap dijaga dan diperjuangkan, terutama dalam sengketa dagang di forum WTO.

Pemerintah Indonesia dan Malaysia, sebagai dua negara penghasil utama minyak sawit dunia harus bersama-sama melakukan diplomasi.

Pemerintah harus lebih aktif lagi di forum WTO agar bisa menang dalam menghadapi sengketa dagang.

"Apalagi selama kita kekurangan tim banding di WTO sehingga untuk menghadapi sengketa dagang, ini harus diperkuat. Market inteligent kita juga kurang. Padahal ini sangat penting," katanya.

 

Sumber : Antara        

Editor : Bambang Supriyanto

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung